Derita Dibalik Keindahan

bukit-indah

Dari sisi bukit di senja berkabut gelap, aku duduk termenung. Keindahan bukit nan hijau tiada berarti disebabkan murungnya suana yang meliputi jiwaku, hati dan pikiranku. Semangatku hanyut terbawa deras arus kehidupan, Jiwa yang dulunya kekar bersemangat kini lunglai terinjak keadaan. Hati yang lembut menjadi keras, tidak lagi mau mengasihani, kesejukan itu sudah hilang terbawa pergi gelombang penyebab derita. Aku mencoba membujuk dengan ketajaman pikir yang kumiliki agar kembali bagai sediakala, tetapi tak bisa jua. Aku mengintip di lorong alam pikir yang pernah kulalui yang kutemukan hanyalah kegelapan, tidak terang lagi seperti dulu. Dengan kegalauan rasa yang melilit kucoba bangkit dengan sampah-sampah akal yang masih tersisa, disitu baru kutahu ternyata, semuanya telah hilang, Hanya bongkahan-bongkahan tak berjejak yang tertinggal dan tak kuasa memberi apa-apa, Pikiran tajam itu bukan tumpul tapi telah sirna, dihisap proses pembodohan berkepanjangan.

Ditengah megahnya pembangunan, canggihnya tekhnologi, dinamisnya perkembangan. Tapi aku, tidak merasakan, gagap dengan itu dan tetap disini tak bergeser dari tumpukan masalah yang mengisolir. Sesekali aku berteriak agar yang menyebabkan aku menderita mau mendengar, aku berontak dan ingin melawan tapi ruang gerakku sangat sempit dan terhimpit dalam pasungan. Aku tak kuasa melawan keadaan, aku tak sanggup berjalan tanpa pemandu, aku tak mau sendirian agar aku tidak diculik. Tapi apa, Negeriku ramah telah cemberut melihat kebejatan dan kejahatan, Tanahku yang subur telah digarap, hartanya dirampok untuk memberi makan orang-orang tidak lapar dan aku hanya bisa terdiam dibalik keindahan bukit.

Negeriku yang bersaudara, bergotong-royong, ber-bhinneka telah dirobek dan ditambal dengan permusuhan, pertikaian, individualis. Tanah airku yang direbut dari penjajah kini dirampas lagi oleh penjajah ekonomi, pelanggar hak azasi yang mengatasnamakan HAM, pembunuh keadilan atasnama demokrasi. Kini aku, saudara-saudaraku dijadikan budak, kemerdekaanya dikebiri, kedaulatannya diamputasi dan kehidupannya dirampas. Aku sedih, malu, masa bodoh, jengkel, semua  jadi satu dalam bisu, tak kuasa bicara apalagi melawan. bukan karena orang-orang asing itu, tapi saudara-saudaraku sendiri yang bagsawan-bangsawa negara telah menghianat dan menjadi centeng-centeng yang beringas, memutuskan tali dan menapikkan persaudaraan. mereka tak ubahnya anjing-anjing yang pintar, cerdik dan patuh mengabdi pada tuannya, diberi nama yang tenar dan makan yang enak agar lebih  pandai mencari dan memburu bahkan membunuh mangsanya.

Ibu Pertiwi menangis, Tanah subur menjadi kering, melihat kebangatan dan kebangsatan mereka. mengeruk disini lalu membawanya ke sana, di sana merona dan di sini merana, mereka bergelimang dan aku serta saudaraku bergelumur, coba bayangkan, betapa sedih dan sakitnya. Andai aku bisa keluar dari cerita tragis ini, aku mau berhenti dari pemeran agar semuanya berakhir. aku ingin jadi penulis saja lebih enak ber-ekspresi tapi tidak mau menjadi centeng-centeng orang asing walaupun enak dan berkuasa.

Pergi.. pergi.. pergi.. Aku mau pergi dan berlalu saja, meninggalkan sisi bukit ini, indah tapi membuatku merana dan mencari bukit lain, biarpun tidak indah tetapi membuatku merona.

Medio maret

Catatan dari sudut kamar, sedikit sesak tapi menyenangkan

AKU CINTA INDONESIA › Tools — WordPress

AKU CINTA INDONESIA › Tools — WordPress.

Halo dunia!

Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!


KATEGORI TULISAN

TEMUKAN DISINI

JEJAK WAKTU

Mei 2012
S S R K J S M
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

UNGKAPAN PAVORIT

@ Masa kecilku banyak mendengar tentang pahlawan ngeri ini, tentang Pancasila dasar negara, lagu-lagu perjuangan yang membangkitkan semangat kebangsaan. Tapi kini, semuanya telah terlupakan oleh bangsanya sendiri (rudiahmad). @Jangan tanya yang diberikan negara kepadamu, Tetapi tanyakan apa yang akan engkau berikan kepada negaramu (soekarno)

Catatan